Kapan Terakhir Cek Tekanan Darah?
Kita sering menunggu tubuh memberikan keluhan sebelum melakukan pemeriksaan. Masalahnya, tekanan darah tinggi dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas. Seseorang bisa tetap bekerja, berolahraga, dan menjalani aktivitas sehari-hari tanpa menyadari bahwa tekanan darahnya berada di atas rentang yang sehat. Itulah sebabnya pengukuran rutin menjadi penting.

Kapan Terakhir Cek Tekanan Darah?
Tekanan darah adalah kekuatan aliran darah terhadap dinding pembuluh darah. Hasilnya ditulis dalam dua angka. Angka atas disebut sistolik dan menunjukkan tekanan ketika jantung memompa. Angka bawah disebut diastolik dan menunjukkan tekanan ketika jantung beristirahat di antara denyut. Keduanya sama-sama penting untuk dinilai.
Menurut WHO, hipertensi pada orang dewasa didiagnosis ketika hasil pengukuran pada dua hari berbeda menunjukkan tekanan sistolik 140 mmHg atau lebih dan atau tekanan diastolik 90 mmHg atau lebih. Namun, pedoman dan target penanganan dapat berbeda berdasarkan kondisi kesehatan serta risiko setiap orang. Satu hasil tinggi belum tentu berarti seseorang memiliki hipertensi, tetapi tetap perlu ditindaklanjuti.
Hasil pengukuran dapat berubah karena cara pemeriksaan. Agar lebih akurat, hindari olahraga, minuman berkafein, dan merokok setidaknya 30 menit sebelumnya. Kosongkan kandung kemih, lalu duduk tenang sekitar lima menit. Duduk dengan punggung tersangga, telapak kaki menyentuh lantai, kaki tidak disilangkan, dan lengan ditopang setinggi jantung. Manset harus sesuai ukuran dan dipasang langsung pada kulit, bukan di atas pakaian.
Saat mengukur, jangan berbicara atau menggunakan ponsel. Lakukan dua kali pengukuran dengan jeda singkat dan catat hasilnya. Jika memantau di rumah, usahakan mengukur pada waktu yang sama serta gunakan alat yang telah tervalidasi. Satu angka hanyalah gambaran sesaat; catatan beberapa hari akan memberikan informasi yang lebih berguna bagi dokter.
Kesalahan sederhana dapat membuat hasil tampak lebih tinggi atau lebih rendah. Manset yang terlalu kecil, lengan yang menggantung, kaki yang disilangkan, berbicara selama pengukuran, atau mengukur segera setelah berjalan cepat dapat memengaruhi angka. Karena itu, jangan terburu-buru menilai hasil sebelum memastikan tekniknya sudah benar.
Siapa yang perlu lebih waspada? Risiko tekanan darah tinggi dapat meningkat seiring usia dan pada orang dengan riwayat keluarga hipertensi, penyakit ginjal, diabetes, berat badan berlebih, kebiasaan merokok, konsumsi garam berlebihan, kurang aktivitas fisik, atau konsumsi alkohol. Kehamilan dan beberapa jenis obat juga dapat memengaruhi tekanan darah. Namun, orang tanpa faktor risiko yang jelas tetap perlu mengetahui angkanya.
Jika hasil beberapa kali pengukuran tetap tinggi, bawa catatan tersebut saat berkonsultasi. Jangan memulai, menghentikan, atau mengganti dosis obat sendiri. Tekanan darah yang sangat tinggi, terutama bila disertai nyeri dada, sesak napas, kelemahan atau kebas mendadak, gangguan bicara, kebingungan, perubahan penglihatan, atau sakit kepala hebat memerlukan pertolongan medis segera.
Sebaliknya, tekanan darah yang lebih rendah dari biasanya juga perlu diperhatikan bila menimbulkan pusing, hampir pingsan, pandangan kabur, atau kelemahan. Dehidrasi, obat, infeksi, dan berbagai kondisi lain dapat berperan. Catat keluhan serta waktunya dan konsultasikan, terutama bila gejala berulang.
Menjaga tekanan darah bukan hanya tentang mengurangi satu jenis makanan. Pola makan seimbang, membatasi garam, aktif bergerak, tidur cukup, tidak merokok, mengelola stres, serta mengikuti pengobatan yang diberikan dokter dapat menjadi bagian dari rencana. Perubahannya tidak harus dilakukan sekaligus. Mulailah dari langkah yang realistis dan dapat dipertahankan.
Kamu dapat memulai dengan mengecek label natrium pada makanan kemasan, menambah sayur dan buah, menjadwalkan workout, serta menyiapkan waktu tidur yang lebih konsisten. Jika sudah mendapat obat, minumlah sesuai jadwal walaupun tubuh terasa baik-baik saja. Tekanan darah yang membaik dapat berarti pengobatan dan kebiasaanmu bekerja, bukan berarti obat boleh dihentikan sendiri.
Workout di Curves dapat membantu membangun kebiasaan aktif. Jika kamu memiliki hipertensi atau sedang mengonsumsi obat tekanan darah, informasikan kepada Coach dan ikuti arahan dokter. Berhenti berolahraga bila merasa pusing, nyeri dada, sesak yang tidak biasa, atau tubuh terasa sangat lemah.
Jangan menunggu pusing untuk mengenal tekanan darahmu. Jadikan pemeriksaan sebagai bagian dari kepedulian terhadap diri sendiri, seperti halnya menjaga pola makan dan rutin bergerak. Angka tersebut bukan untuk membuat cemas, tetapi untuk membantu kita mengambil langkah lebih awal sebelum muncul masalah yang lebih besar.